Filsafat Ilmu: Apakah Filsafat Berkaitan dengan Agama?
Menurut Prof. Nasroen. SR filsafat yang sejati haruslah
berdasarkan kepada agama. Apabila filsafat tidak berdasarkan pada agama
semata-mata hanya berdasarkan atas akan pikiran saja, maka filsafat tersebut
tidak akan memuat kebenaran objektif, karena yang memberikan pandangan dan
putusan adalah akal pikiran. Sedangkan kesanggupan akal berfikir terbatas,
sehingga filsafat tidak akan sanggup memberikan kepuasan bagi manusia, terutama
dalam tingkat pemahamannya terhadap alam gaib.
Filasafat dan agama memiliki hubungan yang terkait, terkait
karena keduanya tidak dapat bergerak dan berkembang apabila tidak ada tiga alat
dan tenaga utama yang berada didalam diri manusia, yaitu pikiran, rasa dan
keyakinan.
Dewasa ini di Barat terdapat kecenderungan yang demikian kuat
terhadap peranan agama. Masyarakat modern yang rasionalistik, vitalistik, dan
materialistik, ternyata hampa spiritual, sehingga mulai menengok dunia Timur
yang kaya nilai-nilai spiritual. Melalui sudut pandang islam maka hubungan antar
filsafat dan agama yaitu sangat erat hubungannya. Al quraan mengatakan bahwa
sarana yang digunakan dalam mempelajari objek yakni akal dan objek yang
diperintahkan untuk dipelajari yaitu yang bersifat realitas secara menyeluruh.
Ayat-ayat yang menerangkan itu antaranya “maka berpikirlah wahai orang-orang
yang berakal dan berbudi. Disini dapat kita katakan bahwa Al Quraan memandang
positif hubungan antara filsafat dan agama.
Agama
dan filsafat memainkan peran yang mendasar dan fundamental dalam sejarah dan
kehidupan manusia. Selain menaruh filsafat sebagai sumber pengetahuan, Barat
juga menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Hubungan filsafat dan agama di
Barat telah terjadi sejak periode Yunani Klasik, pertengahan, modern, dan
kontemporer, meskipun harus diakui bahwa hubungan keduanya mengalami pasang
surut. Kerja akal disebut berfilsafat jika dalam memakainya seseorang menggunakan
metode berpikir yang memenuhi syarat-syarat pemikiran logis. Kebenaran tidak
akan berlawanan dengan kebenaran sehingga jika pemikiran akal (sebagai sumber
asasi filsafat) dan Al Quraan (sebagai sumber asasi agama) tidak membawa
pertentangan maka itu merupakan suatu kebenaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar