Kritisisme Immanuel Kant merupakan usaha untuk
mendamaikan rasionalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur apriori
dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman
(seperti “ide-ide bawaan” ala Descrates).
Empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal
dari pengalaman (seperti Locke
yang menganggap rasio sebagai “lembaran putih” –as a white paper-).
Menurut Kant, rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah.
Kant berusaha
menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesa unsur-unsur apriori
dengan unsur-unsur aposteriori.Walaupun Kant sangat mengagumi empirisme Hume,
empirisme yang bersifat radikal dan konsekuen, maupun ia tidak menyetujui
skeptisisme yang dianut Hume dengan kesimpulannya bahwa dalam ilmu pengetahuan
kita tidak mampu mencapai kepastian. Hukum-hukum ilmu pengetahuan berlaku
selalu dan dimana-mana, misalnya air mendidih dalam 100 C, selalu begitu dan begitu
dan begitulah di mana-mana. Yang menjadi soal adalah, bagaimana hal itu mungkin
terjadi? Syarat-syarat manakah yang harus terpenuhi untuk menjadikan ilmu
pengetahuan alam dapat menghasilkan pengetahuan yang begitu mutlak dan perlu
pasti? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Kant mengadakan revolusi
Filsafat. Ia berkata bahwa ia mau mengusahakan suatu “Revolusi Kopernikan”,
berarti suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan revolusioner
yang dijadikan covernicus dalam bidang astronomi. Dahulu para filsuf telah
mencoba memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa si subjek mengarahkan
diri kepada objek.
Kant mengerti
pengenalan dengan berpangkal dari anggapan bahwa objek mengarahkan diri kepada
subjek. Sebagaimana copernicus
menetapkan bahwa bumi berputar sekitar matahari dan bukan sebaliknya, demikian
pula Kant memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subjek bukan objek
Tidak ada komentar:
Posting Komentar