Senin, 28 November 2016

Sebatas Pemikiran menjadi Mahasiswa yang Telah Dewasa

Sebatas Pemikiran menjadi Mahasiswa yang Telah Dewasa


Bagaimana filsafat memandang tentang fenomena telat mendewasakan diri, bertanggung jawab sebagai mahasiswa pada muda-mudi saat ini, yang terkadang terbawa sampai usia menjelang kepala tiga atau bahkan kepala tiga.  Sebagai mana diketahui dan dijelaskan oleh banyak ahli,  bahwa hal tersebut disebabkan oleh masa kanak-kanak yang  secara emosi kurang terfasilitasi sehingga menjadikan jiwa kekanak - kanakan di dalam diri seorang mahasiswa dalam berpikir.

Hal yang sangat ironis sebetulnya, apalagi ketika manusia mempunyai misi khalifah, yang bertanggung jawab atas kelangsungan bumi dan makhluk - makhluk lain ciptaan Allah Subhanaanahu wa Ta'alaa. Ditambah dengan zaman yang semakin lama semakin membutuhkan peran pemimpin yang memiliki kedewasaan emosi dan berfikir. Di samping masa kemampuan diri yang berkembang kurang tersalurkan, sebab lain dari terlambatnya kedewasaan seseorang, adalah karena persiapan menuju masa berpikir yang kurang komprehensif, dengan kata lain, anak-anak tidak disiapkan untuk dewasa dan bertanggung jawab setelah melewati pubertas.

Salah satu cara mengasah kedewasaan sebagai pemimpin dalam kegiatan mahasiswa adalah dengan cara mengajak untuk ikut serta dalam acara-acara seminar, workshop, yang menghadirkan pembicara profesional, serta mempunyai cukup ilmu yang luas. Bukan hanya memberikan kebanggaaan tersendiri bagi anak, tetapi juga bisa menjadi wadah untuk belajar sopan santun dan adab berkumpul dan berbicara dengan orang dewasa sebagai calon pemimpin di masa depan. Hal tersebut sudah dicontohkan oleh para sahabat nabi Muhammad SAW  seperti dalam riwayat sahabat Nabi yang bernama Samrah Bin Jundub (lihat Shahih Muslim no 1603), dan Abdullah Ibn Umar (Shahih Bukhari 70, Shahih Muslim 5028), yang diajak mengahadiri beberapa rapat penting dengan orang-orang dewasa ketika mereka masih kanak-kanak. 

Dengan sering dilibatkannya calon pemimpin masa depan sebagai mahasiswa ini dalam beberapa kegiatan dewasa, insya Allah secara bertahap dapat mendidik anak-anak untuk menjadi tumbuh menjadi mahasiswa yang komprehensif bukan hanya dari sisi biologis, tetapi juga dari sisi emosi dan tanggungjawab.


Filsafat Mencoba Mengartikan Kehidupan yang Sulit Tidak Berlaku Selamanya

Filsafat Mencoba Mengartikan Kehidupan yang Sulit Tidak Berlaku Selamanya

Menurut Aristoteles, hati adalah tempat keberadaan emosi manusia. Menempuh kehidupan malang melintang sudah pasti, menggunakan hati dalam memilih.
Hidup juga bukan untuk hanya untuk bersenang-senang, ini sudah menjadi sebagian pilihan dalam hidup dan tiap orang biasanya memilih sengsara dahulu barulah bahagia, seperti pepatah bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Semua ujian ini semoga menjadi awal untuk kehidupan yang lebih baik. Pertanda bahwa di dalam dunia ini tidak selamanya manusia mengalami kesedihan, kesengsaraan saja melainkan juga kebahagiaan, kesenangan, kemakmuran. Hanya saja, apakah mampu menjalaninya? Sebagai manusia, hidup di dunia adalah fana, berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjalaninya secara ikhlas, semua kesulitan pada akhirnya hanya akan menjadikan manusia semakin kuat dan tabah. Semua akan indah pada waktunya. Begitulah filsafat memahami proses ini.


Memahami Filosofi Orang yang Menginginkan Impiannya Terwujud.

 Memahami Filosofi Orang yang Menginginkan Impiannya Terwujud.

Orang yang menginginkan impiannya menjadi kenyataan, harus menjaga diri agar tidak tertidur. Artinya dalam setiap impian, mimpi dan cita-cita, pantas untuk diperjuangkan secara sadar dan bersungguh-sungguh. Manusia mempunyai akal dan harus digunakan untuk memaksimalkan potensi yang ada demi terciptanya cita-cita, atau impian yang terwujud.
Suatu pengorbanan secara sadar mengharuskan setiap usaha dilaksanakan setiap waktu, sepanjang waktu, inilah yang dimaksud agar tidak tidur, menjadi pribadi yang kuat, tangguh, pantang menyerah, tidak mudah putus asa. Itulah kunci agar mampu melihat impian terwujud menjadi kenyataan, mimpi yang terlaksana, dan cita-cita yang tercapai.


Filsafat Pendidikan: Objek Ilmu Pengetahuan

Objek Ilmu Pengetahuan

Menurut penjelasan Webster, ada beberapa penekanan mengenai objek pengetahuan, hal yang dapat disebut sebagai objek dan hasil pengetahuan mencakup sesuatu yang dapat dilihat dan disentuh, dinikmati oleh panca indra; sesuatu yang dapat disadari keberadaanya. 


Mengapa yang Diinginkan Selalu dianggap Sesuatu Berharga?

Mengapa yang Diinginkan Selalu dianggap Sesuatu Berharga?

Mencari sesuatu yang berharga sementara sebenarnya mempunyai sesuatu yang berharga. Dalam kehidupan yang diinginkan dan diharapkan lebih mendapat perhatian dibandingkan yang dibutuhkan, selama ini ilmu dan pemikiran yang berguna menjadi sulit dinikmati dan diinterprestasikan karena mereka tidak memandang kenyataan kebutuhan hanya memandang apa yang mereka inginkan. Bagaimana dapat berjalan secara baik apabila sesuatu yang dibutuhkan kurang bermakna oleh kita? Menjadi diri sendiri yang tidak banyak orang dapat mengerti sama halnya dengan filsafat. Sulit dipahami namun sebenarnya kita telah memahaminya meskipun kita berpikir belum memahami. Ilmu yang telah ada dan membantu pemikiran-pemikiran besar yang tidak dijawab



Ilmu vs Pengetahuan Menurut Pandangan Filsafat

Ilmu vs Pengetahuan Menurut Pandangan Filsafat

Mengkonsumsi ilmu pengetahuan menjadi salah satu kebutuhan bagi setiap manusia. Dalam konteks ini, sebagian ahli menyebut “ilmu” dan sementara lainnya “ilmu pengetahuan”. Memang terdengar sama, namun apakah keduanya mempunyai arti yang sama?

Secara kefilsafatan, filsafat menjawab bahwa boleh jadi keduanya sama-sama merupakan hal yang tepat, "ilmu pengetahuan” ataukah “ilmu”, bukan menjadi masalah serius. Karena filsafat memandang bahwa ilmu adalah pengetahuan yang benar menurut cara pandang, metode dan sistem tertentu. Jadi, jelas bahwa di dalam ilmu terkandung pengetahuan, tetapi tidak sebaliknya.
Dalam Kamus Webster's New Collegiate : 1979, tertulis ada dua istilah, "Ilmu" dan "Sains".

Pengetahuan menjelaskan tentang adanya hal sesuatu yang diperoleh secara biasa atau sehari-hari (regularly), melalui pengalaman-pengalaman, kesadaran, informasi dsb. Ilmu, di dalamnya terkandung adanya pengetahuan yang pasti, lebih praktis, sistematik, metodik, ilmiyah dan mencakup kebenaran umum mengenai objek studi yang lebih bersifat fisis (natural). Jadi terlihat jelas bahwa ada saling hubungan antara keduanya. Pengetahuan mempunyai cakupan lebih luas dan umum. Sedangkan, ilmu mempunyai cakupan yang lebih sempit dan khusus dalam arti metodis, sistematis, dan ilmiah.


Memahami Filsafat Pendidikan dalam Sistem Pengajaran Pendidikan

Memahami Filsafat Pendidikan dalam Sistem Pengajaran Pendidikan

Memahami Filsafat Pendidikan di Indonesia sebagai sistem sekolah adalah mengajar. Proses pendidikan bersifat etis atau politis, tidak bersifat netral (bebas bernilai). Mengajar tidak hanya tentang konsteks ilmu pengetahuan saja melainkan cara bersosialisasi, cara untuk survive dengan lingkungan dan konteks sosial-budaya yang memaksa manusia untuk berpikir secara sadar dan berlaku amanah terhadap diri. Pendidikan mengatur setiap perbedaan-perbedaan dalam pengajaran,asalkan dapat sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan bangsa Indonesia. Situasi diciptakan beraneka ragam akan tetapi konseptualisasi pendidikan menjadi keadaan yang masih langka, sehingga menyulitkan beberapa orang untuk dapat memahami pendidikan secara komprehensif.
Pengajaran menurut filsafat pendidikan tumbuh secara mainstream dari pemikiran modernisme, yang biasa dikatakan dengan "ideologi kritis" berisikan perubahan dalam sosial-budaya. Memaknai pendidikan yang ada sekarang, tidak pernah lepas dari kritikan. Abdurrahman Wahid (1993) mengatakan bahwa output pendidikan formal berupa "mozaik" saja. Pendidikan disini dianggap cenderung distandarisasikan oleh pemerintah. Oleh sebab itu terjadi kasus konvergen, yang memiliki orientasi pada nilai yang sudah ditetapkan standarnya.
Sebenarnya ketika manusia mampu untuk berbuat dan melakukan hal yang lebih baik dari standar yang ada, dapat terwujud pendidikan divergen yang artinya mengoptimalisasi setiap potensi yang dimiliki setiap manusia sehingga menjadi potensi yang beragam dan tentunya lebih inovatif dan tepat. Walaupun filsafat pendidikan banyak menjelaskan dan mendasari setiap tindakan yang sebaiknya dilakukan dalam mengajar, namun banyak dari guru-guru di Indonesia hanya mampu menjadi "tukang ajar" bukan sebagai pendidik. Tukang ajar terkesan hanya mampu melaksanakan program, pengetahuan yang telah terstruktur dan disusun oleh pemerintah, sehingga tidak membiarkan siswa dapat berkembang dan mencari sendiri pengetahuannya, namun diajar oleh tukang ajar. Hal ini yang kurang baik bagi siswa, mengapa demikian? Sebab siswa menjadi tidak berkembang dan membunuh sifat manusia yaitu mampu berpikir dan berakal, dan membendakan mereka.



Filsafat Pendidikan: Persetujuan dengan Perubahan Sistem Pembelajaran

Persetujuan dengan Perubahan Sistem Pembelajaran

Ini terkadang terlihat karakteristik alami manusia tersebut sulit untuk berubah, banyak orang yang mempunyai macam-macam rutinitas yang ada di hidupnya susah untuk menerima perubahan pada kehidupan mereka yang biasanya. Kita juga mengetahui bahwa manusia sulit untuk beradaptasi dengan sekitar mereka walaupun mereka mungkin sulit untuk berinisiatif seperti berubah.

Guru tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan penelitian dasar tentang sifat alami manusia, banyak guru yang sulit untuk menerima perubahan pada kurikulum sekolah, metode dalam penjelasan dan kondisi bekerja. Bagaimanapun, banyak pula guru yang mampu beradaptasi dengan variasi perubahan pada sistem pembelajaran.
Selama 20 tahun belakangan, banyak guru matematika yang menyesuaikan kurikulum matematika baru, mengambil sistem instruksi baru, dan strategi mengajar dan menerima teori baru tentang psikologi dan perkembangan intelektual.

Sayangnya tidak semua berubah positif, dan beberapa perubahan pada pelajaran matematika tidak seperti ekspetasi para inovator pendidikan. Program buku tulis dan sistem penjelasan atau penerangan sangat tidak sukses bagi para inovator. Beberapa dari kelas terbuka melakukan pendekatan untuk mengajar dan mempelajari siswa yang kebingungan dan frustasi, dan beberapa orang percaya dengan kurikulum pada beberapa subjek, matematika menjadi salah satunya yang mempunyai alasan untuk menolak skill dasar disekitar para siswa dan remaja. Walaupun demikian, beberapa inovasi pembelajaran pada 20 tahun kebelakangan telah sedikit jauh dari harapan, gabungan dari semua efek hasil perubahan dalam mengajar dan belajar.
Pandangan saya hasil perkembangan pada sistem pendidikan kita; pada akhirnya mereka para pendidik yang tidak setuju dengan saya, apakah sebuah kenikmatan atau menentang perubahan, faktanya itu mengubah tempat yang telah ada pada pendidikan dan akan terus berlanjut terjadi konsekuensinya. Guru harus mempersiapkan diri mereka sendiri untuk merespon pengetahuan dan efektif untuk perkembangan baru pada pendidikan dan juga harus bisa mencoba mempengaruhi arah perubahan pembelajaran.



Senin, 14 November 2016

Pendirian dan Makna Filosofinya

Setiap individu paling tidak mempunyai satu pendirian, seperti memiliki pijakan kokoh dan jelas yang akan tampak dan dapat dirasakan berbeda dengan yang lain di lingkungannya, seperti hadits ‘ghuraba’ yang banyak kita dengar, sebab memang nyatanya mereka (setiap individu) seperti orang aneh dan asing. 
Tapi tujuannya bukan saja membuat diri sendiri berani menjadi asing, tapi bertahan dan bangga dengan ke’asing’annya yang dianggap benar. Targetnya adalah bukan hanya pada filosofi diri sendiri yang sanggup memegang ‘bara api’, tapi nyaman dengan ‘bara’ yang di pegangnya. Sehingga individu dapat mudah berjalan dengan pendiriannya seperti, menggunakan jilbab panjangnya diantara kerumunan teman-temannya yang tidak berjilbab seakan itu hal yang dengannya cap bahwa dirinya nampak suci, posisi dengan dagu terangkat dan mengetahui bahwa perbedaannya membuat seseorang tersebut spesial di mata Tuhannya.

Filsafat di Tengah Hidup Nomaden

Menjalani aktivitas sebagai orang yang hidupnya nomaden, sulit sekali jika tidak mempunyai pijakan atau pedoman yang jelas dan satu. Budaya yang sering ditemui jelas tidak dapat dijadikan pegangan, karena apabila menyesuaikan diri dan hidup sesuai dengan budaya dimana tempat tinggal, dapat dengan mudah mengubah diri.
Filsafat memandang hal ini merupakan fenomena yang tidak biasa, karena berhubungan dengan aktivitas dan lingkungan yang berbeda-beda pada tiap waktu dan keadaannya. Karena budayanya berbeda-beda, bahkan kadang saling bersebrangan. Oleh karenanya sudah sebaiknya kita memahami masing-masing karakter setiap individu dari tempat yang ditinggali supaya dapat membaur antar sesama.

Keputusan hidup berpindah harus sesuai dengan keperluan sehingga dapat hidup benar secara agama, sehingga dimana pun kami di bawa oleh angin kehidupan, fisiknya saja yang ada disana, imannya tetep utuh di dalam jiwa. Tidak perduli bagaimana lingkungan, dan filsafat memahami ini sebagai cara yang tepat dalam meminimalisir kesalahan yang diambil sebagai keputusan kurang baik dalam hidup misalnya salah pergaulan, dan lain-lain.


Menjalani Hidup Bagian dari Filsafat


Suatu hal yang tidak mungkin apabila setiap hal yang dilakukan harus mengharap ridho dari semua orang. Filsafat memandang kehidupan dari mulai hal sederhana menjadi kompleks. Bagaimanapun menjalani kehidupan tidak selamanya mendapat dukungan dan respon positif meskipun berasal dari orang-orang yang kita sayangi, hormati, bahkan kagumi. Dalam hidup pasti ada yang pro ada yang kontra. Apa pun kehidupan akan terus berlanjut.

           Tetap melangkah mengikuti alur bagaimana diri sendiri dan filsafat memandangnya sebagai bagian dari kehidupan mengikuti kata hati, jalan mana yang ingin kita lalui. Baik atau buruk kah jalan yang dilalui, atau sudah tepat atau malah belum tepat sama sekali, sehingga wajar filsafat ada untuk membatasi bagaimana perilaku sebaiknya dalam menjalani hidup.


Cecep Sumarna, Filsafat Umum, Pustaka Bani Quaranty,2006


Sabtu, 12 November 2016

Menganggap Belajar itu Sederhana

Menganggap Belajar itu Sederhana

Dalam belajar dan mengajar pendidikan nilai harus menekankan pada pembentukan dan membimbing siswa dalam implementasi dan praktek kebiasaan yang baik dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai warga negara dan sebagai anggota masyarakat yang baik.Karakteristik alami manusia tersebut sulit untuk berubah, banyak orang yang mempunyai macam-macam rutinitas yang ada di hidupnya susah untuk menerima perubahan pada kehidupan mereka yang biasanya. Kita juga mengetahui bahwa manusia sulit untuk beradaptasi dengan sekitar mereka walaupun mereka mungkin sulit untuk berinisiatif seperti berubah.a

Pendidikan bukanlah milik mereka yang kaya, bukan pula kekuatan mereka yang cerdas, pendidikan adalah milik mereka yang mau belajar, mencapai kebenaran, menemukan kekuatan dan membawa perubahan.  Mereka harus mempersiapkan diri mereka sendiri untuk merespon pengetahuan dan efektif untuk perkembangan baru pada pendidikan dan juga harus bisa mencoba mempengaruhi diri sendiri untuk berguna bagi seluruh komponen, baik masyarakat, bangsa dan negara.


Susanto A. Filsafat Ilmu, Jakarta, Bumi Aksara, 2011

Menyederhanakan Arti Belajar Mengajar

Menyederhanakan Arti Belajar Mengajar

Pada dasarnya, mengajar merupakan suatu profesi yang dapat menghasilkan sesuatu yang besar ketika cara dan ide-ide yang tepat dan benar dapat diimplementasikan di dalam kelas kepada siswa atau peserta didik. Tujuan mengajar umumnya terletak dalam mendapatkan siswa untuk benar-benar memahami konsep pelajaran serta materi yang diajarkan. Mengajar juga dikenal sebagai rangkaian kegiatan yang diselenggarakan untuk mendukung proses pembelajaran.

Belajar, menurut beberapa ahli, mengetahui hal-hal baru, belajar dapat menjadi kegiatan pengalaman dan mengajar dapat memodifikasi sesuatu hal yang sebelumnya telah ada, pengetahuan, perilaku, keterampilan, nilai-nilai, atau kegiatan yang mungkin melibatkan berbagai jenis informasi. Belajar adalah suatu proses, bukan kumpulan pengetahuan faktual dan prosedural yang dapat dengan mudah diterima begitu saja.
Mengajar merupakan kegiatan utama dari seorang guru, dan sekarang juga menjadi tugas dari dosen. Bagi Perguruan Tinggi belajar adalah kegiatan wajib mahasiswa. Sementara itu, belajar dapat darimana saja, misalnya bahan ajar sebagai media proses belajar-mengajar. Ketiga komponen-guru, siswa, dan materi-merupakan komponen utama pendidikan interaksional.

Beberapa ahli menunjukkan bahwa mengajar adalah proses transfer pengetahuan. Guru atau dosen adalah subjek, sedangkan, siswa adalah objek. Bagaimanapun keadaan dan situasinya, dalam proses belajar-mengajar, para guru atau dosen harus mampu memfasilitasi segala kebutuhan siswa. Para guru menjelaskan atau menggambarkan topik dan siswa diharapkan untuk dapat memahaminya.



Tafsir Ahmad, Filsafat Ilmu, Bandung, PT. Remaja Rosda Karya, 2006


Reflektif Fokus Saat Ini

Reflektif Fokus Saat Ini

Di masa lalu, anak-anak pergi ke sekolah membawa buku, akan tetapi miris sekarang sebaliknya mereka membawa ponsel sebagai hal yang wajib dibawa. Apakah mereka benar-benar membutuhkannya atau hanya menganggapnya sebagai gaya hidup mereka untuk menjaga percaya diri sebab ketika teman lain memiliki dan salah seorang tidak memiliki, muncul rasa pesimis dalam bersekolah.

Jika kita melihat banyak orang dari berbagai komunitas, mereka tidak akan kehilangan teknologi yang bermunculan di dunia ini. Berbagai kalangan tidak hanya memiliki satu ponsel tapi lebih dari satu ponsel yang benar-benar menghabiskan lebih banyak uang. Terlihat di jalan, banyak pengendara pun sering menyalahgunakan ponsel. Mereka mengemudi dan pada saat yang sama, mereka menelepon, mengirim pesan teks atau mengakses internet. Padahal, hal ini dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas karena mereka tidak fokus di jalan tapi mereka fokus pada ponsel mereka. Selain itu, ada juga penyalahgunaan ponsel pada saat proses belajar mengajar di sekolah yang saat guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, siswa bermain ponsel. Ini memiliki dampak yang sangat negatif pada prestasi siswa. Prestasi mereka bisa jatuh karena kurangnya konsentrasi pada materi.


Melihat keadaan seperti ini sudah sebaiknya sebagai calon guru, kita dapat bertindak tegas melihat perilaku siswa yang menyalahgunakan ponsel saat jam pelajaran kelas berlangsung, ataupun kerja sama guru dengan orangtua murid, mengenai larangan membawa ponsel ke sekolah dan pengawasan saat anak menggunakan ponsel. Banyak cara demikian yang dapat mengurangi penyalahgunaan ponsel. Sehingga siswa dapat belajar selayaknya sebagai murid sekolah.


Pengaruh Sosial Media dan Punahnya Budaya Membaca

Pengaruh Sosial Media dan Punahnya Budaya Membaca

Pengaruh buruk dan negatif dari penggunaan sosial media tanpa adanya filterisasi mengakibatkan lumpuhnya rasa kemanusiaan pada berbagai juta orang termasuk remaja. Kemudahan teknologi dan cepatnya globalisasi sebagian besar berdampak negatif, apabila penggunaannya dilakukan secara kurang tepat dan disalahgunakan. Miris melihat kenyataan bahwa hampir seluruh besar remaja di Indonesia lebih menikmati menggunakan gadget atau smartphonenya dibanding hanya sekedar membaca apalagi hanya memegang buku. Bagaimana mungkin remaja saat ini dapat memfilterisasi diri apabila membaca saja tidak sering dilakukan.

Di Indonesia, banyak iklan serta akses yang mempermudah dan murah yang direkomendasikan pada remaja dalam menggunakan smartphone cangguh, berbeda jauh dengan di bukanya belajar kreatif, bazaar buku dan berbagai kegiatan lainnya dalam menyemarakan budaya membaca. Tidak hanya bagaimana orang lain berusaha supaya masyarakat Indonesia semangat dan menyukai budaya membaca, dari diri kita sendiri sudah seharusnya untuk bisa berinisiatif sempurna, melakukan hal-hal positif, walaupun sekedar membaca buku. Jangan sampai melupakan apalagi kehilangan budaya membaca hanya karena tekhnologi yang semakin maju.


Selasa, 08 November 2016

Mengatur Jalannya Pendidikan Indonesia

Bagaimana Sistem Pendidikan yang dijalankan oleh Pemerintah dalam mengatur jalannya pendidikan di Indonesia?


Banyak Lembaga Pemerintah mencoba untuk mengatur segala aktivitas pendidikan di Sekolah-sekolah Negeri, Kementerian Pendidikan merancang, merata tugas untuk semua guru dengan berbeda-beda dan berputar arah sebagai bagian dari tanggung jawab setiap guru mata pelajaran. Meskipun guru memiliki beberapa hak pilihan dalam bertugas, situasi ini bervariasi pada setiap sekolah. Pemerintah melalui kementerian pendidikan menginginkan program pendidikan yang harus menghasilkan guru-guru untuk mengajar program studi sesui bidang keahlian guru tersebut. Aturan pekerjaan layak dipatuhi, misalnya jam kerja guru mengajar, beban kelas yang telah ditentukan, kondisi peserta didik, dll. Baik-buruk kekurangan-kelebihan pasti dimiliki setiap aktivitas kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan, sistem pendidikan yang di pegang oleh Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Apa yang diinginkan dalam tujuan pendidikan menjadi hal utama yang diusahakan dapat dijawab pada setiap aktivitas pendidikan, walaupun kenyataannya pendidikan di negara ini masih cukup memprihatinkan. Bagaimanapun juga membangun pendidikan adalah kewajiban bersama yang harus dilaksanakan semaksimal mungkin.


Dimyati dan Mudjiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.