Jumat, 30 Desember 2016

Kritik Murni Kritisisme Kant


Kritisisme Immanuel Kant merupakan usaha untuk mendamaikan rasionalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur apriori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman (seperti “ide-ide bawaan” ala Descrates). Empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman (seperti Locke yang menganggap rasio sebagai “lembaran putih” –as a white paper-). Menurut Kant, rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah.

Kant berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan  paduan antara sintesa unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori.Walaupun Kant sangat mengagumi empirisme Hume, empirisme yang bersifat radikal dan konsekuen, maupun ia tidak menyetujui skeptisisme yang dianut Hume dengan kesimpulannya bahwa dalam ilmu pengetahuan kita tidak mampu mencapai kepastian. Hukum-hukum ilmu pengetahuan berlaku selalu dan dimana-mana, misalnya air mendidih dalam 100 C, selalu begitu dan begitu dan begitulah di mana-mana. Yang menjadi soal adalah, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Syarat-syarat manakah yang harus terpenuhi untuk menjadikan ilmu pengetahuan alam dapat menghasilkan pengetahuan yang begitu mutlak dan perlu pasti? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Kant mengadakan revolusi Filsafat. Ia berkata bahwa ia mau mengusahakan suatu “Revolusi Kopernikan”, berarti suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan revolusioner yang dijadikan covernicus dalam bidang astronomi. Dahulu para filsuf telah mencoba memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa si subjek mengarahkan diri kepada objek.

Kant mengerti pengenalan dengan berpangkal dari anggapan bahwa objek mengarahkan diri kepada subjek. Sebagaimana copernicus menetapkan bahwa bumi berputar sekitar matahari dan bukan sebaliknya, demikian pula Kant memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subjek bukan objek

Tidak ada komentar:

Posting Komentar