"PENDIDIKAN JASMANI"
Dalam satu diskusi dengan teman-teman, begitu juga dalam
realitas praktik pendidikan-tampaknya seolah pendidikan jasmani itu tidak
terakomodir atau setidak-tidaknya kurang mendapat porsi yang memadai dalam
cakrawala kajian pemikiran pendidikan Islam.
Sebenarnya, berdasarkan pandangan filsafat Islam tentang
manusia sebagai makhluk yang terdiri dari aspek fisik dan fsikis, maka
pendidikan jasmani itu justru menjadi suatu keniscayaan.
As-Saibany misalnya menjelaskan bahwa manusia itu
merupakan totalitas yang terdiri dari tiga aspek, yaitu jasmani (jism), akal,
dan ruh (Falsafah Tarbiyah Islamiyah, h. 92), sehingga mau tidak mau,
pendidikan Islam itu (dalam praktiknya) harus memperhatikan ketiganya secara
seimbang. Pandangan ini tentu meniscayakan pendidikan jasmani demi tercapainya
perkembangan aspek jism itu.
Karenanya, secara filosofis salah satu di antara lima
karakter yang harus dipenuhi dalam kurikulum pendidikan Islam menurut
as-saibany adalah keharusan memperhatikan aktifitas pendidikan jasmani
itu/nasyat ar-riyadiy al-badany (Falsafah Tarbiyah Islamiyah, h. 362).
Anjuran rasulullah untuk melatih kemahiran anak-anak
dalam memanah (rimayah), menunggang kuda (al-furusiyah) juga merupakan bentuk
motivasi terhadap penegakan pendidikan jasmani yang bertujuan agar memiliki
tubuh yang kuat yang tentunya sangat dibutuhkan oleh seorang muslim dalam
menjalani jihad kehidupan. Islam sendiri memandang bahwa sebenarnya seluruh
aktifitas kehidupan ini adalah jihad yang tentu membutuhkan kekuatan fisik (الحياة كلها جهاد-في حاجة إلي جسم وثيق متين)
Bahkan aktifitas sa'i dan lari-lari kecil (harwalah)
dalam rangkaian ibadah haji itu menurut Muhammad Qutb merupakan bentuk motivasi
pada pendidikan jasmani untuk melatih tubuh menjadi kuat dan sehat (Muhammad
Qutb: Manhaj Tarbiyah Islamiyah, h. 128). Begitu pun bisa dilihat dalam
pandangan-pandangan pemikir pendidikan lainnya. wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar