Pedagogik Augustinian
McCloskey (2005: 3-26)
berupaya menjelaskan pedagogi Agustinus dan para penafsirnya. Agustinus
menyediakan prinsip yang berfungsi seperti benang untuk dijalin menjadi kain
dari karya tulisnya dan kehidupannya. McCloskey mencoba menghubungkan
nilai-nilai ini menjadi prinsip untuk memandu pengembangan program pendidikan Augustian
juga evaluasi efektivitas programnya. Benang-benang tersebut: 1) Selembar
benang Pembelajaran melalui pengalaman-pengalaman Transformatif yang berpusat
pebelajar, 2) Selembar benang Pembelajaran untuk pencarian Kebenaran yang
berpusat pengetahuan, 3) Selembar benang Pembelajaran Sepenuh hati untuk
Pembelajaran, dan 4) Selembar benang Pembelajaran Dialog dalam Kesatuan di
Tengah Keterpilahan. Pembangunan kekuatan dan sebuah fundasi
bagi Agustinus merupakan proyek senantiasa-bergulir. Pembelajaran sepenuh hati
untuk Pembelajaran dibangun tanpa pernah sampai ke titik kesempurnaan.
Pengetahuan adalah berguna ketika ia digunakan untuk mempromosikan cinta.
Tetapi ia menjadi sia-sia, bahkan merusak, jika ia dipisahkan dari tujuan yang
demikian. Di samping metafora
scaffolding, Agustinus melihat perkembangan kesepenuhan hatian ini sebagai
pendakian tangga. Untuk mencapai sebuah titik yang tinggi untuk mencapai
ketinggian dari keagungan, gunakan tanda kerendahatian. Agustinus menunjuk
kepada sikap apatis dan jenuh sebagai penghambat bagi kesepenuh-hatian untuk
Pembelajaran. Dalam perjalananannya mencari kebenaran, Agustinus
bahkan menemukan berbagai cara metodologis yang berbeda mengenai sumber-sumber
kesatuan. Peran guru hendaknya membantu dalam pebelajar memahami suatu
pemahaman di luar perbedaan-perbedaan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar