Akal dan Hati pada Filsafat Modern
Kritik
filsafat pascamodern terhadap filsafat modern terungkap dalam istilah
dekonstruksi seperti yang digunakanpara tokoh filsafat pascamodern. Yang
didekonstruksi tentu saja rasionalisme yang digunakan untuk membangun seluruh
isi kebudayaan dunia barat.
Bila
hubungan antara hati dan akal manusia telah diputusan maka manusia akan
memperoleh kenyataan bahwa pertanyan tentang rumusan hidup ideal tidak pernah
akan terjawab. Memilih sains dan teknologi sebagai satu-satunya gantungan
hidup, atau meletakkan sains dan teknologi sebagai pemegang otoritas tertinggi
dalam kehidupan, berarti kita telah menyerahkan kehidupan manusia kepda alat
yang dibuatnya sendiri. Paham posivistik memang akan bermuara pada sikap
sekularistik seperti itu.
\
Manusia mulai merindukan dimensi spiritual yang telah hilang dari kehidupannya.
Di dunia ilmu muncul pandangan yang menggugat paradigma positivistik. Tokoh
seperti Khuntelah mengisyaratkan adanya upaya pendobrakan tatkala ia mengatakan
bahwa kebenaran ilmu bukanlah suatu kebenaran sui generis (objektif).Dengan
mengatakan itu, berarti Kuhn telah menyerang jantungnya positivisme yang
menjadikan rasionalisme sebagai andalan satu-satunya. Haedar Nashir, mengungkapkan
segi menarik pada krisis manusia modern. Bagaimana pendewasaan rasio manusia
telah menjerumuskan manusia pada sekularisasi kesadaran dan menciptakan
ketidakberartian hidup. Penyakit mental justru menjadi penyakit zaman seperti
keserakahan, saling menghancurkan,sekularisasi kebudayaan, dan ada juga
pencarian makna hhidup. Tetapi akhirnya untuk mencapai tujuan hidup
manusia modern justru melakukan kekerasan. Kekerasan itu amat mungkin
berkembang karena adanya pandangan bahwaa ukuran keberhasilan seseorang adalah
sejauh mana ia mampu mengumpulkan materi dan simbol-simbol lahiriah yang
bersifat formal.
Rosda,Ahmad
Tafsir.1998.Filsafat Umum.Bandung: PT. Rosda Karya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar