Senin, 12 Desember 2016

Menanggapi Filosofi Perbedaan Orang di Pedesaan dan Perkotaan

 Orang didesa mempunyai hubungan yang lebih erat mendalam antar sesama warganya. Sistem kehidupan biasanya berkelompok, atas dasar kekeluargaan. Sebuah desa sering kali ditandai dengan kehidupan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian, penduduknyaramah-tamah, saling mengenal satu sama lain, mata pencaharian penduduknya kebanyakan sebagai petani, atau nelayan. Penduduk masyarakat desa pada umumnya hidup dari pertanian atau nelayan, meskipin pekerjaan yang lain pun ada seperti tukang kayuatau tukang batu. Pekerjaan bertani biasanya dilakukan bersama-sama antara anggota masyarakat desa lainnya . Hal itu mereka lakukan, karena biasanya satu keluarga saja keluarga tidak cukup melakukan pekerjaan tersebut. Sebagai akibat dari kerja sama ini, timbullah kebiasaan dalam masyarakat yang namanya gotong royong.

Desa mengalami perubahan, sehingga unsur-unsur kota masuk didalamnya. Begitu puula kota, meskipun disebuah kota, ciri-ciri atau kebiasaan desa masih ada yang melekat didalamnya. Pada masyarakat desa jarang dijumpai  pekerjaan berdasarkan keahlian, akan tetapi biasanya pekerjaan didasarkan pada usia (karena kekuatan fisiknya) dan jenis kelamin.  Sebuah kota sering kali ditandai dengan kehidupan yang ramai, wilayahnya yang luas, banyak penduduknya, hubungan yang tidak erat satu sama lain, dan mata pencaharian penduduknya bermacam-macam. 

Pembagian kerja pada masyarakat kota sudah sangat terspesialisasi. Begitu pula jenis profesi pekerjaan sudah sangat banyak macamnya (heterogen). Dari sudut keahlian, seseorang mendalami pekerjaan pada satu jenis keahlian yang semakin spesifik, contohnya: ada dokter umum, yang lebih terspesilisasi ada dokter khusus ahli THT, dokter ahli penyakit dalam, dokter ahli kandungan, dan lain-lain. Disamping itu jenis pekerjaan banyak sekali macamnya, contohnya:ada tukang listrik,ada ahli bangunan, guru, polisi, tentara, akuntan, dan lain-lain. 

Menurut Soerjono Soekamto, masyarakat kota dan desa memiliki perhatian yang berbeda, khususnya perhatian terhadap keperluan hidup. Didesa, yang diutamakan adalah perhatian khusus terhadap keperluan pokok, fungsi-fungsi yang lainnya diabaikan. Lain dengan pandangan orang kota, mereka melihat selain kebutuhan pokok, pandangan masyarakat sekitarnya sangat mereka perhatikan. Perbedaan penilaian terhadap menghidangkan makanan contohnya, masyarakat desa menilai makanan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan biologis, sedangkan masyarakat kota sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosial.

Ferdinand Tonnies mengemukakan pembagian masyarakat dengan sebutan masyarakat gemainschaft dan gaselschaft. Masyarakat gemainschaft atau disebut juga paguyuban adalah kelompok masyarakat dimana anggotanya sangat terikat emosional dengan yang lainnya. Sedangkan masyarakat geselschaft atau petembayan adalah ikatan-ikatan diantara anggotanya kurang kuat dan bersifat rasional. Paguyuban cenderung sebagai refleksi masyarakat desa, sedangkan Patembayan sebagai refleksi masyarakat kota. 

Ada saling ketergantungan yang tinggi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya karena perbedaan pekerjaannya. Satu jenis pekerjaan dengan pekerjaan lainnya saling ketergantungan. Di sisi lain masyarakat desa memiliki jenis pekerjaan yang sam, seperti bertani, berladang, atau sebagai nelayan. Kehidupan orang desa yang memiliki jenis pekerjaan yang sama (homogen) sangat menggantungkan pekerjaannya kepada keluarga lainnya. Mereka tidak bisa mengerjakan semuanya oleh keluarganya sendiri. Untuk mengolah tanah, memanen padi, atau pekerjaan bertani lainnya, mereka harus sepakat dengan yang lain menunggu giliran. Saling ketergantungan pada masyarakat yang disebabkan oleh karena adanya persamaan dalam bidang pekerjaan oleh Emile Durkheim di sebut dengan solidaritas mekanis (mechanic solidarity). 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar