Jumat, 30 Desember 2016

SERTIFIKAT SEMINAR NASIONAL FILSAFAT PENDIDIKAN


SERTIFIKAT SEMINAR NASIONAL FILSAFAT DENGAN TEMA
"STRUKTUR FUNDAMENTAL PEDAGOGIK KRITIS PAULO FREIRE"
YANG DISELENGGARAKAN TANGGAL 29 OKTOBER 2016 DI AUDITORIUM GEDUNG. B UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA, SERANG-BANTEN

(ALHAMDULILAH MENAMBAH ILMU DAN WAWASAN TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN)

SERTIFIKAT SEMINAR FILSAFAT


SERTIFIKAT SEMINAR NASIONAL FILSAFAT DENGAN TEMA
"STRUKTUR FUNDAMENTAL PEDAGOGIK KRITIS PAULO FREIRE"
YANG DISELENGGARAKAN TANGGAL 29 OKTOBER 2016 DI AUDITORIUM GEDUNG. B UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA, SERANG-BANTEN

(ALHAMDULILAH BERKAH DAN LANCAR)

Mengapa Melaksanakan Pembangunan Pendidikan

Pembangunan pendidikan berpusat pada pembangunan operasional dalam bentuk kegiatan belajar mengajar, yang ditunjang oleh pembangunan transformasi pengelolaan pendidikan ditingkat pusat, wilayah dan sekolah-sekolah yang membangun komponen-komponen pendidikan

Pembangunan pendidikan adalah pembangunan manusia seutuhnya. yaitu pembangunan sumberdaya manusia secara optimal yang bermanfaat bagi kepentingan individu dan menunjang pembangunan sector-sektor kehidupan lainnya

Pendidikan adalah usaha sadar yang ditunjukkan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang berkepribadian kuat dan utuh serta bermoral tinggi. jadi tujuan citra manusia pendidikan adalah terwujudnya citra manusia yang dapat menjadi sumber daya pembangunan yang manusiawi Pendidikan dasar merupakan basic education yang memberikan bekal dasar bagi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dapat diartikan juga bahwa pendidikan dasar memberikan bekal dasar kepada warga negara yang tidak sempat melanjutkan pendidikan untuk dapat melibatkan diri ke dalam gerak pembangunan.


Cakupan Milik Ilmu Filsafat

   Filsafat sebagai proses berfikir  yang sistematis dan radikal memiliki  objek material dan objek formal, objek material filsafat adalah segala yang ada, segala yang ada mencakup yang tampak dan tidak tampak , yang tampak adalah dunia empiris sedangkan yang tidak tampak adalah alam metafisika.

    Sementara sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian : yaitu yang ada di alam empiris, yang ada dalam fikiran dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun objek formal filsafat adalah sudutpandang yang menyeluruh, radikal dan rasional tentang segala yang ada. Cakupan objek filsafat lebih luas bila dibandingkan dengan ilmu, karena ilmu hanya terbatas pada persoalan yang empiris saja, sedangkan filsafat mencakup yang empiris dan yang non empiris, Setiap bidang ilmu ini kemudian berkembang dan menspesialisasi.
Bahkan pada perkembangan berikutnya filsafat tidak hanya dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah menjadi bagian dari ilmu itu sendiri yang juga mengalami spesialisasi.


Metode Teori Berdasarkan Pengetahuan Filsafat

Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain lain meiliki metode tersendiri dalam teori pengetahuan diantaranya adalah :

a)         Metode induktif, yaitu metode yang menyimpulkan pernyataan pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum, dalam induksi setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal hal lain seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanaskan maka akan mengembang.

b)         Metode deduktif, yaitu metode yang menyimpulkan bahwa data data empiric diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut, hal yang harus ada dalam metode deduktis adalah perbandingan logis antara kesimpulan kesimpulan itu sendiri.

c)         Metode positivisme, metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual dan dan positif, ia mengenyampingkan segala persoalan diluar yang ada sebagai fakta.menurut comte perkembangan pemikiran manusia melaui 3 tahap yaitu, teologis, metafisis dan positif.


d)         Metode kontemplatif, metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda beda, harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi, pengetahuan yang didapat melalui intuisi ini bias diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al Ghazali

e)         Metode dialektis, metode ini mula mula berarti metode Tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat namun plato mengartikannya sebagai diskusi logika.


Paham Ontology Filsafat

Paham ontology pertama kali dikenalkan oleh rodolf goclenius pada tahun 1636 M,  untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis, dalam perkembangannya Rudolf Wolf membagi metafisika menjadi 2 yaitu metafisika umum dan metafisika khusus, metafisika umum dimaksuidkan sebagai istilah lain ontology, dengan demikian metafisika umum atau ontology adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada, sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi dan teologi.

Didalam pemahaman ontology dapat diketemukan pandangan pandangan pokok pemikiran sebagai berikut :

a)  Monoisme, paham ini menganggap bahwa hakikat yang berasal dari seluruh kenyataan hanyalah satu saja, tidk mungkin dua, faham ini kemudian terbagi 2 yaitu : materialism yang menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi bukan rohani aliran ini sering juga disebut naturalism, yang kedua yaitu idealisme aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh yaitu sesuati yang tidak berbentuk dan menempati ruang.

b)  Dualisme, aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat yaitu hakekat materi dan hakekat ruhani , benda dan ruh, jasad dan spirit. Umumnya manusia tidak akan mengalami kesulitan untuk menerima prinsip dualism ini, karena setiap kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera kita, sedang kenyataan bathin dapat segera diakui adanya oleh akal dan perasaan hidup.

c)  Pluralime, paham ini berpandangan bahwa segenap bentuk merupakan kenyataan, prularisme bertolak dari keseluruhan danmengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata.


Ukuran Filsafat Kebenaran

Ukuran kebenaran, secara umum orang merasa bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mencapai kebanaran, namun masalahnya tidak hanya sampai disitu saja, problem kebenaran inilah yang memacu tumbuh dan berkembangnya epistimologi, telaah epistimologi terhadap kebenaran membawa kita pada sebuah kesimpulan bahwa perlu dibedakan adanya 3 jenis yaitu kebenaran epistimologis, kebenaran ontologis dan kebenaran semantik.  Kebenaran epistimologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia, kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan, kebenaran dalam arti semantic adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa.Dalam membahas kebenaran epistimologis karena kebenaran yang lainnya secara interen akan masuk dalam kategori kebenaran epistimologis, teori yang menjelaskan episyimologis adalah sebagai berikut :
1.      
Teori korespondensi, atau the correspondence theory of truth, menurut teori ini kebenaran itu apabila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju oleh pernyataan itu. Suatu proposisi atau pengertian adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang diselaraskannya, yaitu apabila ia menyatakan apa adanya, kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang berselaras dengan realitas yang serasi dengan situasi akal

2.     Teori koherensi tentang kebenaran, atau teori konsistensi atau the consistence of truth yang sering pula dinamakan the coherence of truth, menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain yaitu fakta dan realitas, tetapi atas hubungan antara antara putusan putusan itu sendiri dengan kata lain kebenaran ditegakkan atas hubungan antara putusan yang baru itu dengan dengan putusan putusan lainnya yang telah kita ketahui dan akui kebenarannya terlebih dahulu.

3.     Teori Fragmatisme tentang kebenaran, atu the fragmatic theory of truth. Menurut teori ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil atau teori semata mata tergantung kepada azas manfaat, sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat dan akan dikatakan salah jika tidak mendatangkan manfaat. Menurut teori ini suatu kebenaran dan suatu pernyataan diukur dengan criteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia, teori hipotesa atau ide adalah benar apabila ia membawa pada akibat yang memuaskan, apabila ia berlaku dalam praktik apabila ia mempunyai nilai praktis, jadi kebenaran adalah sesuatu yang berlaku.


Pengetahuan Biasa, Ilmu, Filsafat dan Agama

Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri

Burhanudin salam mengemukakan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia ada 4 yaitu :
1.      1.      Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan istilah common sense, dan sering diartikan sebagai good sense.
2.          Pengetahuan ilmu, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science yang diartikan sebagai pengetahuan yang kuantitatif dan objektif.
3.          Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif, pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.
4.          Pengetahuan agama, yaitu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat utusannya, pengetahuan agama bersifat mutlak dn wajib diyakini oleh parapemeluk agama.
 

Dari sejumlah pengertian yang ada sering ditemukan kerancuan antara pengertian pengetahuan dan ilmu, kedua kata tersebut dianggap memiliki kesamaan arti bahkan ilmu dan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi kata majemuk yang mengandung arti tersendiri. Dalam kamus besar bahasa Indonesia ilmu disamakan artinya dengan pengetahuan, ilmu adalah pengetahuan. Pengetahuan terbagi menjadi 2 yaitu pra ilmiah dan ilmiah,  pengetahuan pra ilmiah adalah pengetahuan yang belum memiliki syarat syarat ilmiah pada umumnya, sebaliknya pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang harus memilki syarat syarat ilmiah.

Tahap Pandangan Pedagogi

Studi terhadap literatur riset tentang pedagogi menghasilkan empat tahap pandangan para peneliti tentang pedagogi. 

1)  Tahap 1: Fokus pada tipe-tipe guru. Riset dari pengajaran bertumpu pada style dalam mengajar. Pedagogi memandang guru sebagai sebuah komponen penting dari pedagogi. 

2)  Tahap 2: Fokus pada konteks pengajaran. Pada tahap ini riset pedagogi memusatkan diri pada kehidupan di ruang kelas. Karya Kounin yang juga menyoroti kompleksitas kehidupan kelas, berpengaruh selama dua pulu tahunan (Kounin, 1977). Tahap ini menambahkan aspek manajerial dan organisasional pada pekerjaan guru di ruang kelas. Pandangan tentang pedagogi yang lebih luas ini memudahkan dalam memahami kelas sebagai sebuah sistem aktivitas. Unsur paling penting dari koherensi dari aktivitas adalah tujuannya mengajar. Misalnya, kita sekarang lebih mengetahui bagaimana latar sekolah menengah pertama dengan perjenjangnya sesuai dengan usia, berpusat pada mata ajar, ruang kelas yang self-contained memiliki pengaruh yang kuat dan tampak bertahan lama pada sifat pedagoginya. Kedua, pemahaman bahwa isi dari apa yang diajarkan mempengaruhi bagaimana diajarkannya telah menyebabkan munculnya gerakan untuk mempunyai fokus yang lebih kuat pada pengetahuan guru tentang mata ajar.

3)  Tahap 3: Fokus pada mengajar dan belajar.

Pembelajaran Pedagogik Agustinus

       Pedagogik Augustinian 
McCloskey (2005: 3-26) berupaya menjelaskan pedagogi Agustinus dan para penafsirnya. Agustinus menyediakan prinsip yang berfungsi seperti benang untuk dijalin menjadi kain dari karya tulisnya dan kehidupannya. McCloskey mencoba menghubungkan nilai-nilai ini menjadi prinsip untuk memandu pengembangan program pendidikan Augustian juga evaluasi efektivitas programnya. Benang-benang tersebut: 1) Selembar benang Pembelajaran melalui pengalaman-pengalaman Transformatif yang berpusat pebelajar, 2) Selembar benang Pembelajaran untuk pencarian Kebenaran yang berpusat pengetahuan, 3) Selembar benang Pembelajaran Sepenuh hati untuk Pembelajaran, dan 4) Selembar benang Pembelajaran Dialog dalam Kesatuan di Tengah Keterpilahan. Pembangunan kekuatan dan sebuah fundasi bagi Agustinus merupakan proyek senantiasa-bergulir. Pembelajaran sepenuh hati untuk Pembelajaran dibangun tanpa pernah sampai ke titik kesempurnaan. Pengetahuan adalah berguna ketika ia digunakan untuk mempromosikan cinta. Tetapi ia menjadi sia-sia, bahkan merusak, jika ia dipisahkan dari tujuan yang demikian. Di samping metafora scaffolding, Agustinus melihat perkembangan kesepenuhan hatian ini sebagai pendakian tangga. Untuk mencapai sebuah titik yang tinggi untuk mencapai ketinggian dari keagungan, gunakan tanda kerendahatian. Agustinus menunjuk kepada sikap apatis dan jenuh sebagai penghambat bagi kesepenuh-hatian untuk Pembelajaran.  Dalam perjalananannya mencari kebenaran, Agustinus bahkan menemukan berbagai cara metodologis yang berbeda mengenai sumber-sumber kesatuan. Peran guru hendaknya membantu dalam pebelajar memahami suatu pemahaman di luar perbedaan-perbedaan ini. 


Kritik Murni Kritisisme Kant


Kritisisme Immanuel Kant merupakan usaha untuk mendamaikan rasionalisme dengan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur apriori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman (seperti “ide-ide bawaan” ala Descrates). Empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman (seperti Locke yang menganggap rasio sebagai “lembaran putih” –as a white paper-). Menurut Kant, rasionalisme maupun empirisme kedua-duanya berat sebelah.

Kant berusaha menjelaskan bahwa pengalaman manusia merupakan  paduan antara sintesa unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori.Walaupun Kant sangat mengagumi empirisme Hume, empirisme yang bersifat radikal dan konsekuen, maupun ia tidak menyetujui skeptisisme yang dianut Hume dengan kesimpulannya bahwa dalam ilmu pengetahuan kita tidak mampu mencapai kepastian. Hukum-hukum ilmu pengetahuan berlaku selalu dan dimana-mana, misalnya air mendidih dalam 100 C, selalu begitu dan begitu dan begitulah di mana-mana. Yang menjadi soal adalah, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Syarat-syarat manakah yang harus terpenuhi untuk menjadikan ilmu pengetahuan alam dapat menghasilkan pengetahuan yang begitu mutlak dan perlu pasti? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Kant mengadakan revolusi Filsafat. Ia berkata bahwa ia mau mengusahakan suatu “Revolusi Kopernikan”, berarti suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan revolusioner yang dijadikan covernicus dalam bidang astronomi. Dahulu para filsuf telah mencoba memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa si subjek mengarahkan diri kepada objek.

Kant mengerti pengenalan dengan berpangkal dari anggapan bahwa objek mengarahkan diri kepada subjek. Sebagaimana copernicus menetapkan bahwa bumi berputar sekitar matahari dan bukan sebaliknya, demikian pula Kant memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subjek bukan objek

Pentingnya Sistem Kelas Pendidikan

        Bagi sekolah dasar yang menganut sistem guru kelas, tematik terpadu akan memberikan banyak keuntungan antara lain:
  • Fleksibilitas pemanfaatan waktu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa
  • Menyatukan pembelajaran siswa, konvergensi pemahaman yang diperolehnya sambil mencegah terjadinya inkonsistensi antar mata pelajaran
  • Merefleksikan dunia nyata yang dihadapi anak di rumah dan lingkungannya

Selaras dengan cara anak berfikir, dimana menurut penelitian otak mendukung teori pedagogi dan psikologi bahwa anak menerima banyak hal dan mengolah dan merangkumnya menjadi satu. Sehingga mengajarkan secara holistik terpadu adalah sejalan dengan bagaimana otak anak mengolah informasi.
Kurikulum terpadu sebagai panutan dalam tematik terpadu adalah salah satu pendekatan pembelajaran dimana kompetensi [pengetahuan, keterampilan, dan sikap] dari berbagai mapel digabungkan menjadi satu untuk merumuskan pemahaman yang lebih mendalam dan mendasar tentang apa yang harus dikuasai siswa.

           Telah banyak peneliti pendidikan yang menekankan pentingnya pembelajaran terpadu seperti Susan Drake, Heidi Hayes Jacobs, James Beane and Gordon Vars, dll yang menyatakan bahwa kurikulum adalah terkait, terpadu, lintas disiplin, holistik, dan berbagai istilah lain yang memiliki arti yang sama.
James Beane lebih jauh menekankan “When we are confronted in real life with a compelling problem or puzzling  situation, we don’t ask which part is mathematics, which part is science, which part is history, and so on. Instead we draw on or seek out knowledge and skill from any and all sources that might be helpful”
Masalah fokus pembelajaran: ada istilah-istilah IPA yang memiliki arti berbeda dengan istilah-istilah umum pada matapelajaran Bahasa Indonesia, misalnya: “gaya”, “usaha”, “daya”, dll. 

Kemampuan Disiplinkan Siswa

      Salah satu perhatian utama untuk berpengalaman guru berpengalaman adalah kemampuan guru untuk mempertahankan disiplin siswa di dalam kelas. Guru dengan siswa yang sangat peduli dengan kemungkinan masalah disiplin. Secara umum, disiplin kelas melibatkan melakukan kegiatan yang bermanfaat di setiap sesi kelas sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang efisien dan efektif. Dalam guru bukunya dan anak, haim ginnot (1972) menggunakan anecdot berikut ini untuk menggambarkan pendekatan suara untuk menangani masalah disiplin potensial.

Seorang guru hendak memberikan pelajaran pertamanya di sebuah sekolah untuk anak laki-laki tunggakan. Dia sangat khawatir. Keberhasilan dan kegagalan bergantung pada pertemuan pertama ini. Sebagai guru berjalan cepat ke mejanya, ia tersandung dan jatuh. Kelas meraung dalam tawa lucu. Guru naik perlahan berdiri tegak dan mengatakan "ini pelajaran pertamaku untukmu. Seseorang dapat jatuh dan membuat malu dirinya namun dapat berdiri dan bangkitlagi hening. Kemudian datang tepuk tangan. Pesan diterima.
DISIPLIN

            Objek langsung yang harus dipenuhi melalui kelas di tiap sekolah dengan baik-disiplin yang jelas. Sangat sedikit belajar akan terjadi di ruang kelas kacau dan pembelajaran yang tidak mengambil tempat tidak mungkin berhubungan dengan guru tujuan kognitif dan afektif untuk pelajaran. Sangat bising, tidak terstruktur, dan tidak disiplin bukanlah situasi yang baik bagi siswa dalam belajar.
Ada juga beberapa umum masyarakat - terkait tujuan yang dapat dan harus dicapai dala penegakan disiplin di sekolah. Ausabel (1961) menjelaskan tujuan-tujuan tersebut disiplin sebagai berikut:
Disiplin merupakan fenomena budaya yang universal yang umumnya melayani empat fungsi penting dalam pelatihan kaum muda. Pertama, perlu untuk sosialisasi - untuk belajar standar perilaku yang disetujui dan ditoleransi dalam budaya apapun. Kedua, perlu untuk kepribadian pematangan normal untuk memperoleh ciri-ciri kepribadian dewasa seperti ketergantungan, kemandirian, pengendalian diri, ketekunan dan kemampuan untuk mentolerir frustrasi. Aspek-aspek pematangan tidak terjadi secara spontan, tetapi hanya dalam menanggapi tuntutan sosial berkelanjutan dan harapan. Ketiga, perlu untuk internalisasi standar moral dan kewajiban atau, dengan kata lain. Untuk pengembangan nurani.

Guru Mendorong Siswa Menggunakan Buku Teks Belajar

Banyak siswa gagal dalam menggunakan buku teks belajar, karena mereka tidak tahu bagaimana menggunakannya. Pada awal setiap kursus, guru harus menghabiskan satu periode kelas memperkenalkan siswa untuk buku pelajaran dan menjelaskan bagaimana hal itu akan digunakan.Siswa harus ditampilkan menggunakan indeks untuk mencari definisi, contoh, teorema, dan bukti-bukti dalam buku teks. Banyak buku penerbit penggunaan berbagai format, warna dan jenis gaya untuk menyoroti berbagai jenis objek pelajaran.Siswa harus ditampilkan bagaimana skim melalui sebuah bab dan menemukan topik utama, bagaimana menemukan penjelasan dari konsep-konsep matematika dan prinsip-prinsip, dan cara informal menguraikan topik dan bab.memiliki siswa partice menggunakan indeks untuk menemukan item dalam buku; pilih topik dan meminta mereka untuk menulis garis besar singkat yang berisi gagasan utama; memiliki mereka menelusuri beberapa bab dan membiasakan diri dengan format buku dan organisasi relatif informasi dengan dalam setiap bab.


Banyak guru berusaha untuk mendorong siswa membaca buku teks mereka sepanjang kursus dengan memberikan tugas membaca. Namun, tugas membaca harus diperlakukan dengan mengajar nya dengan cara yang akan membuat siswa menyadari nilai mereka. Ketika siswa tahu bahwa guru akan mengabaikan tugas membaca dan mengulang materi yang diberikan di kelas, mereka tidak mungkin untuk memberikan banyak perhatian untuk memberikan banyak perhatian untuk jenis tugas.dalam rangka mendorong siswa untuk membaca dan mempelajari buku pelajaran, guru harus memberikan tugas membaca yang membutuhkan pencil- tambahan dan paperactivities dan harus mendasarkan setiap pelajaran pada sebelumnya membaca buku teks dan studi tugas. Ketika membaca buku teks dan studi tugas yang dibuat, guru harus memberitahu siswa untuk menuliskan pertanyaan yang muncul selama membaca mereka, membuat catatan tentang definisi, konsep, prinsip, dan contoh-contoh yang perlu diklarifikasi, dan menggunakan pensil dan kertas untuk bekerja melalui contoh latihan dalam buku teks.

Mengenal Metode Inkuiri

Metode inkuiri adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Metode inkuiri menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar yang aktif  (Mulyasa, 2003:234).

Beberapa tujuan dari pembelajaran inkuiri:
        Siswa akan mengembangkan keterampilan mental mencari dan memproses informasi
        Siswa akan belajar prinsip-prinsip logika.
        Siswa akan memahami hubungan sebab dan akibat.
        Siswa akan belajar untuk menanyakan secara mandiri dan produktif.
        Siswa akan menemukan hubungan antara variabel yang menyebabkan generalisasi matematika.
        Siswa akan menghargai strategi penyelidikan sebagai sarana untuk membuat penemuan matematika dan pemecahan masalah.
        Siswa akan memahami metode pembuktian matematika dan pemecahan masalah prosedur dalam matematika.
        Siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih baik dari dasar matematika dan sifat pembelajaran.
        Siswa akan menemukan algoritma matematika dan prinsip-prinsip.
        Siswa akan menghargai  metode dari penelitian matematika yang hebat.

Pembelajaran Pendidikan

Pada umumnya, mengajar adalah usaha guru untuk mengatur dan menciptakan kondisi lingkungan sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi antara siswa dengan lingkungan disekitarnya, seperti guru, alat pendukung pembelajaran, dan sebagainya yang disebut proses belajar, sehingga tercapai tujuan belajar yang telah ditentukan.

Demikian pula dengan menggunakan suatu metode mengajar untuk segala tujuan belajar, tidak semua dapat berlangsung secara efektif. Permasalahannya terletak pada menentukan manakah model dan metode mengajar yang tepat untuk mencapai tujuan pelajaran tertentu, dalam penerapannya pada kurikulum baru yang menuntut siswa lebih berpikir kreatif, inovatif, melibatkan keaktifan dan kerjasama siswa dalam pembelajaran dimana siswa melakukan diskusi kelompok dalam menyampaikan hasil diskusinya.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (Syaiful Sagala, 2011: 62) mengatakan bahwa “Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan dan nilai yang baru.”

Suyatno.(2009).Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Surabaya: Buana Pustaka.

Pedoman Penilaian

Pedoman penilaian yang digunakan untuk menilai kualitas penampilan dan kinerja siswa melalui penggunaan deskripsi yang detil dari standar kinerja. Dalam hal ini, pedoman penilaian merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk menilai sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa lewat suatu produk atau kinerja.  Di dalamnya telah terdapat beberapa aspek yang harus dinilai dan uraian tentang aspek tersebut yang menunjukkan tingkatan pencapaian.

Keberadaan pedoman dapat memberikan manfaat saat guru akan menilai suatu produk atau kinerja yang tidak bisa dinilai melalui tes, dan dapat memperlihatkan kelemahan dan kekuatan setiap siswa pada aspek tertentu.


Penilain Autentik Berdasarkan Kemampuan Siswa


Guru perlu mengetahui kemampuan siswa (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) yang sebenarnya, sebagai hasil belajar, untuk memberikan tindakan yang tepat pada proses pembelajaran berikutnya. Penilaian autentik lebih dapat mengungkap kemampuan siswa yang sebenarnya. Sebab, pada pembelajaran menuntut siswa mendemonstrasikan kompetensi yang sudah dikuasai dengan berbagai cara. 

        Penilaian  autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek.
        Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya
(Kehlrr: 2004)

Selasa, 27 Desember 2016

Pandangan Matematika dalam Filsafat

Pandangan Matematika dalam Filsafat 

Berhubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, matematika merupakan salah satu sarana kegiatan ilmiah, sebagai bahasa matematika yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaian pernyataan yang bersifat artificial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu matematika hanya merupakan kumpulan rumus rumus yang mati.

Sebagai sarana berfikir deduktif matematika merupakan cara berfikir dengan menarik kesimpulan yang merupakan konsekwensi logis dari fakta fakta yang mendasarinya. Dalam penalaran deduktif bentuk penyimpulan yang banyak digunakan adalah sistem silogisme dan bahkan silogisme ini disebut juga sebagai perwujudan pemikiran deduktif yang sempurna.
Bila ditinjau dari cara berfikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara berfikir deduktif dan induktif untuk itu penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif dan logika induktif.

Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berfikir deduktif sedangkan statistika mempunyai peranan pentinf dalam berfikir induktif jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.

Bakhtiar, Amsal.2000.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrapindo persada.

Aksiologi Filsafat

Aksiologi merupakan filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian dan dasar dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain lain memiliki metode tersendiri dalam teori pengetahuan diantaranya adalah :

a)   Metode induktif, yaitu metode yang menyimpulkan pernyataan pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum, dalam induksi setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal hal lain seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanaskan maka akan mengembang.
b)   Metode deduktif, yaitu metode yang menyimpulkan bahwa data data empiric diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut, hal yang harus ada dalam metode deduktis adalah perbandingan logis antara kesimpulan kesimpulan itu sendiri.
c)   Metode positivisme, metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual dan dan positif, ia mengenyampingkan segala persoalan diluar yang ada sebagai fakta.menurut comte perkembangan pemikiran manusia melaui 3 tahap yaitu, teologis, metafisis dan positif.

Dari definisi mengenai aksiologi, terlihat jelas bahwa permasalahan yang utama adalah mengenai nilai, niai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai, teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Makna etika dipakai dalam 2 bentuk arti, pertama etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan perbuatan manusia, arti kedua etika merupakan suatu predikat yang dipakai untk membedakan hal hal, perbuatan perbuatan atau manusia manusia yang lain.

Bakhtiar, Amsal.2000.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrapindo persada.

Pengetahuan Tujuan Filsafat Ilmu

Menanggapi filsafat ilmu, yang bertujuan :\

Mendalami unsur unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada pertentangan. Ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia ada 4 yaitu : Pengetahuan biasa, yaitu pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan istilah common sense, dan sering diartikan sebagai good sense. Pengetahuan ilmu, yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science yang diartikan sebagai pengetahuan yang kuantitatif dan objektif. Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif, pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Pengetahuan agama, yaitu pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat utusannya, pengetahuan agama bersifat mutlak dn wajib diyakini oleh parapemeluk agama.

Bakhtiar, Amsal.2000.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrapindo persada.


Ciri Pokok dan Persamaan Ilmu dalam Filsafat

Ciri pokok dalam Filsafat

Ciri pokok dalam filsafat yaitu : 1, adanya unsur  berfikir yang dalam hal ini menggunakan akal 2, adanya unsur tujuan yang ingin dicapai melalui berfikir tersebut 3, adanya unsur ciri yang terdapat  dalam fikiran tersebut yaitu mendalam.

Sedangkan pengertian ilmu yang terdapat dalam kamus bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala gejala tertentu di bidang pengetahuan itu, Mulyadi Kartanegara mengatakan bahwa ilmu adalah any organized knowlwdge, ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda terutama sebelum abad ke 19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang fisik dan inderawi sedangkan ilmu melampauinya pada bidang bidang nonfisik seperti metafisika.
Persamaan filsafat dan ilmu adalah sebagai berikut :
Keduanya mencari rumusan yang sebaik baiknya dan menyelidiki obyek selengkap lengkapnya sampai ke akar akarnya.
Keduanya memberikan pengertian mengenai hubungan atau koheren yang ada antara kejadian kejadian yang kita alami dan mencoba menunjukkan sebab sebabnya
Keduanya berhk memberikan sintesis, yaitu suatu pandangan yang bergandengan
Keduanya mempunyai metode dan sistem
1.  Keduanya berhak memberikan penjelasan tentang kenyataan seluruhnya timbul dari hasrat manusia (objektivitas) akan pengetahuan yang lebih mendasar.

Bakhtiar, Amsal.2000.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrapindo persada.

Metode Mempelajari Filsafat

Cara mempelajari Filsafat

Tidak mudah mempelajari filsafat, apabila orang awam langsung mempelajarinya sebaiknya menerapkan ketiga metode berikut,
3 metode mempelajari filsafat, yaitu :
1.     Menggunakan  sistematis.
Pelaja rmenghadapi karya filsafat. Mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yangterdiri atas beberapa cabang filsafat. Setelah itu mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain. Kemudian mempelajari teori nilai atau filsafat nilai. Pembagian besar ini dibagi lebih khusus dalam sistematika filsafat. Tatkala mempelajari setiap cabang atau sub cabanng itu, aliran-aliran akan terbahas. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita akan terpusat pada isi filsafat, bukan pada tokoh ataupun periode.
2.     Metode historis
Mempalajar ifilsafat dengan mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran. Ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah. Misalnya dimulai dengan membicarakan filsafat Thales, membicarakan riwayat hidupnya, pokok ajarannya, baik dalam teori pengetahuan, teori hakikat,dan teori nilai.
3.     Metode kritis
Digunakan oleh mereka yang mempelajri filsafat tingkat intensif.Pelajar harus sedikit banyak mengetahui pengetahuan tentang filsafat, langkah pertama ialah memahami isi ajaran, kemudian mengajukan kritiknya. Kritik itu mungkin dalam bentuk menentang, dapat berupa dukungan tentang filsafat yang tengah dipelajari. Orang mungkin mengkritikya dengan pendapat sendiri maupun dengan pendapat filosof lain. Jadi, jelas pengetahuan ala kadarnya , tatkla memulai pelajaran amat diperlukan dalam belajar filsafat dengan metode ini.

Bakhtiar, Amsal.2000.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrapindo persada.